Kamis, 05 Januari 2012

kendala dan kelebihan bagi guru dan murid

Hai pembaca setia, kali ini saya akan mengepost sebuah artikel yang saya buat dan saya ambil dari beberapa sumber. Artikel ini berupa tabel yang merupakan tugas kuliah saya yang tergolong ribet kayak ote-ote. hehehe. ini tentang variabel-variabel di dalam pendidikan yang menyangkut peserta didik alias siswa dan pendidik alias guru. Di artikel saya ini berisi tentang kendala dan kelebihan suatu variabel terhadap guru dan murid. Mungkin beberapa penulisan masih ada yang salah, tapi harap dimaklumi saja yah. Manusia ha3x (alasan). Jadi cek dulu okey. Ini dia




No
Variabel
Guru
Peserta didik
Kendala
Kelebihan
Kendala
Kelebihan
1
Mengajar
-memerlukan waktu yang lama

-Memerlukan pengorganisasian materi pelajaran dengan baik dan persiapan keterampilan komonikasi yang prima.

-Tiap tahap pembelajaran perlu dirancang dan dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan

-Sangat ditentukan oleh keterampilan bicara.

-Proses belajar sulit diukur.
·  Dapat menampung kelas besar, tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan, dan karenanya biaya yang diperlukan menjadi relatif lebih murah.
·  Konsep yang disajikan secara hirarki akan memberikan fasilitas belajar kepada siswa.
·  Guru dapat memberi tekanan terhadap hal-hal yang penting hingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.

Erman Suherman, dkk., op cit., h. 202
-memerlukan waktu yang lama
-Peserta didik menjadi kurang aktif
-Membutuhkan penataan ruang tersendiri
-Pengetahuan yang diperoleh melaui pengajaran lebih cepat terlupakan.
- Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.

(Ulihbukit: 1981)

·         Peserta didik mendapatkan keterangan teoritis yang luas dan mendalam tentang masalah yang diseminarkan
·         Peserta didik mendapatkan petunjuk-petunjuk praktis untuk melaksanakan tugasnya
·         Peserta didik dibina untuk bersikap dan berfikir secara ilmiah
·         Terpupuknya kerja sama antar peserta didik
·         Terhubungnya lembaga pendidikan dan masyarakat
(Ulihbukit: 1981)

2
Belajar
-penyusunan desain instruksional
-melakukan rekayasa pembelajaran
-harus menggunakan asas pendidikan maupn teori belajar
-mengevaluasi hasil dari belajar
(winkel;1991)
1). guru/calon guru dapat menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu.

2. guru/calon guru dapat memilih dan menentukan tujuan materi dan strategi belajar yang sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual anak didik.

3). guru/calon guru dapat menghadapi anak dengan benar dalam bentuk tingkah laku yang benar.

4). guru/calon guru dapat terhindar dari pemahaman yang salah tentang anak, khususnya mengenai keragaman proses perkembangan anak mempengaruhi kemampuannya dalam belajar.

(aksara67.blogspot.com)

1. Kedewasaan atau kematangan
Perkembangan sistem saraf sentral, otak, koordinasi motorik, dan manifestasi fisik lainnya mempengaruhi perkembangan kognitif. Walaupun kedewasaan atau maturasi merupakan faktor penting dalam perkembangan intelektual, namun maturasi tidak cukup menerangkan intelektual ini. Andaikan dapat, maka peranan guru sangat kecil dalam mempengaruhi perkembangan intelektual.

2. Pengalaman fisik
Interaksi dengan lingkungan fisik digunakan untuk mengabstrak berbagai sifat fisik dari benda-benda. Contoh, bila seorang anak menjatuhkan benda dan menemukan benda itu pecah, atau bila anak menempatkan benda dalam air kemudian anak melihat benda tersebut terapung, maka anak telah terlibat dalam proses abstraksi. Proses inilah yang disebut dengan pengalaman fisik. Pengalaman fisik ini meningkatkan kecepatan perkembangan anak, sebab observasi benda-benda serta sifat benda-benda menolong timbulnya pikiran yang lebih kompleks.

3. Pengalaman logika-matematik
Interaksi dengan lingkungan dengan cara mengamati benda-benda disekililingnya atau mengkonstruksi hubungan-hubungan antara objek-objek
Contoh. Anak yang sedang menghitung kelereng, kemudian anak tersebut menemukan kelerengnya berjumlah sepuluh buah. Dalam proses ini anak tidak menemukan sifat dari kelereng melainkan kontuksi dari pikiran anak tersebut.
4. Transmisi sosial
Perkembangan intektual atau pengetahuan anak berasal dari orang lain melalui pengaruh bahasa, intruksi formal, dan membaca.

5. Equilibrium

Equilibrium disebut juga dengan pengaturan sendiri yaitu kemampuan untuk mencapai kembali (equilibrium) selama periode ketidakseimbangan (equilibrium).

http://wiki.bestlagu.com/news/166162-kelemahan-dan-kelebihani-belajar.html
-Memusatkan pada proses berpikir atau proses mental. dan bukan sekedar pada hasilnya. Disamping kebenaran siswa,

-Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam pembelajaran.

-informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
-Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.

-Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.

Ausubel dalam Dahar (1989)
3
Mengajar Individual
- kurang efisien
- jumlah pebelajar/peserta didik terlalu banyak
- guru cepat lelah karena siswa meminta perhatian yang besar dari guru

(Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono;2009)

1)Rasa kepuasan karena setiap warga belajar dapat belajar sesuai dengan kapasitasnya dan terjamin

2) Bantuan lebih personal, (Morrison dkk, 2001) menyatakan pembelajar dapat memberikan perhatian secara individual dengan demikian perhatian dan bantuan akan lebih effektif

 3) Remedi dapat diberikan secukupnya

4) Bebas dari pekerjaan rutin yang mungkin membosankan

Nasution (1997)

-membuat hubungan akrab dan peka terhadap kebutuhan siswa

-tanggap dan saling memberikan reaksi positif pada siswa

-saling mempercayai antara guru dan siswa

-mengembangkan sifat mandiri

(Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono;2009)


-
-
4
Mengajar Tim individual
-       membuang waktu jika mengenalkan konsep baru
-Pengorganisasiannya (terutama jika penyelesaian tugas  dilaksanakan  di luar sekolah) relatif sukar, monitoringnya sukar sehingga ada bahaya pemborosan waktu, dana, dan tenaga; apakah setiap siswa bekerja dengan kadar kesesungguhan yang tinggi dan merata, hal ini juga sulit dipantau oleh guru.

-Pembelajaran kelompok sering dikacaukan dengan diskusi kelompok
-Tujuan harus jelas bagi setiap anggota kelompok agar diperoleh hasil kerja yang baik.

-guru perlu bijak dalam menentukan anggota-anggota kelompok. Bilamana perlu dalam penentuan anggota kelompok dapat diserahkan kepada siswa sendiri.

http://laboratorium-um.sch.id/files/BAB%20XIII%20STRATEGI%20PEMBELAJARAN%20KELOMPOK.pdf
-    meningkatkan otoritas guru
-       guru berkesempatan untuk mengamati, mendengarkan dan mendiagnosis siswa
- mengembangkan kemampuan mengambil keputusan
-lebih menghemat energi dibandingkan dengn metode pengajar individu
Kasim Lemlrch J (1990)

-
-
5
Belajar individual
-
-
1) Interaksi antara pembelajar dan pebelajar berkurang sehingga perlu jadwal tatap muka atau kegiatan kelompok

2) Pendekatan tunggal menyebabkan monoton dan membosankan karena itu perlu permasalahan yang menantang, terbuka dan bervariasi

3) kemandirian yang bebas, menyebabkan pebelajar tidak disiplin dan menunda mengerjakan tugas karena itu perlu membangun kultur belajar dan batasan waktu

4) Perencanaan harus matang, memerlukan kerja sama tim, memerlukan dukungan fasilitas, media, sumber dan lainnya

5) Persiapan materi memerlukan biaya yang lebih mahal bila dibandingkan dengan metode kelompok.

Morrison, Ross, dan Kemp (2001)

-besar kecilnya rasa tanggung jawab siswa untuk belajar, karena tanggung jawab siswa dalam belajar individual harus sangat besar
(Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono;2009)


-Memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan bahan-bahan
- Motivasi peserta mungkin sulit dipertahankan
-Peran instruktur perlu berubah
 http://dewin221106.blogspot.com/2009/12/pembelajaran-individual.html

-siswa leluasa belajar berdasarkan kemampuan sendiri
-kebebasan menggunakan waktu belajar atas semua kegiatan yang dilakukan
-siswa mendapatkan keluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan dan intensitas belajar dalam mencapai apa yang dituju
-siswa dapat melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri dari hasil yang didapatkan
-siswa meiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri
-mengembangkan kemampuan individu siswa secara maksimal
(Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono;2009)

- Pemberian kesempatan dan keleluasaan pebelajar untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri. Dalam pembelajaran pembelajar menggunakan ukuran-ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pembelajaran individual awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual, sedangkan pada pembelajaran klasikal awal pelajaran berdasarkan kemampuan rata-rata kelas. Pebelajar menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas.
- Pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal. tiap individu memiliki paket belajar sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga.
(http://blog.tp.ac.id/pembelajaran-individual)

6
Belajar Kelompok
-
-
- mengurangi tanggung jawab individu
-mengesampingkan kebutuhan individu dan kebutuhan kelompok besar
-    menghambat variasi pembelajaran
-    menghambat partisipasi sosial
-    meningkatkan masalah fisik (penglihatan, pendengaran)
-    mengurangi keterlibatan dalam tugas/kegiatan
Kasim Lemlrch J (1990), Curriculum and Instructional Methods for Elementary and Midle School, New York Macmillan College Publishing Co.

-mempermudah untuk pengajaran konsep baru

-mempermudah untuk pengajaran konsep baru


 - mengesankan hanya satu sumber belajar
-       mempermudah komunikasi
Kasim Lemlrch J (1990), Curriculum and Instructional Methods for Elementary and Midle School, New York Macmillan College Publishing Co.
-memberi kesempatan pada setiap siswa ntuk memecahkan masalah secara rasional

-mengembangkan sikap social dan semangat bergotong-royong daam kehidupan

-mendinamiskan kegiatan kelompok dalam dala belajar sehingga semua nya bertanggung jawab

-mengembangkan kemampuan kepemimpinan-keterpimpinan pada tiap anggota kelompok

(Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono;2009)
7
Problem solving
-Guru harus menentukan masalah dan Masalah yang diberikan harus masalah yang pemecahannya terjangkau oleh kemampuan siswa. Masalah yang diluar jangkauan kemampuan siswa dapat menurunkan motivasi mereka.
(Tim PPPG Matematika, 2005:93)

- Guru akan lebih memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dan membimbing siswa dalam proses pemecahannya.
(Tim PPPG Matematika, 2005:93)
(1)   Memerlukan waktu yang cukup banyak.
(2)   Kalau di dalam kelompok itu kemampuan anggotanya heterogen, maka siswa yang pandai akan mendominasi dalam diskusi sedang siswa yang kurang pandai menjadi pasif sebagai pendengar saja.
J. Dewey (dalam Hudojo, 2003:163)

(1) Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.
(2) Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi.
(3) Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.
(4) Mendidik siswa percaya diri sendiri.
J. Dewey (dalam Hudojo, 2003:163)
8
kooperatif
-Membutuhkan waktu yang lama
-Penentuan Skor, Hasil kuis atau tes diperiksa oleh guru, setiap skor yang diperoleh siswa masukkan dalam daftar skor individual, untuk melihat peningkatan kemampuan individual. Rata-rata skor peningkatan individual merupakan sumbangan bagi kinerja percapaian hasil kelompok.

 (Ibrahim dkk, 2000 : 6)

-Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar

-guru di tuntut Mengelola dan membantu siswa dalam belajar kelompok dan kerja di tempat duduk masing-masin

(Nurhadi dan Agus Gerrard, 2003 : 40)

-merupakan model pembelajaran kooperatif paling sederhana, sehingga mudah untuk dimanfaatkan oleh seorang pembelajar untuk proses pembelajaran (Ibrahim dkk, 2000 : 6)

- guru sulit untuk menciptakan suasana belajar yang kooperatif
Amrius, M(2004)
-Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya (Ibrahim, 2000 : 72).


-.Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mereka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam satu grup dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang pada hasil jerih payahnya. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan sebab dalam model pembelajaran kooperatif bukan kognitifnya saja yang dinilai tetapi dari segi afektif dan psikomotoriknya juga dinilai seperti kerjasama diantara anggota kelompok, keaktifan dalam kelompok serta sumbangan nilai yang diberikan kepada kelompok.

-. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur hanya karena bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila disandingkan dengan orang lain.

-. Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil, bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif pembagian tugas rata, setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah didapatnya dalam kelompok sehingga ada pertanggungjawaban secara individu.

http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/kelemahan-model-pembelajaran-kooperatif.html
(1) saling ketergantungan positif; Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.
 (2) tanggung jawab perse-orangan; Jika  tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik, sehingga masing–masing anggota kelompok akan melaksana-kan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok da-pat dilaksanakan.

(3) tatap muka ; Setiap anggota kelompok diberikan kesempatan bertemu muka dan berdis-kusi.

(4) komunikasi antar anggota; Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggota-nya untuk mengutarakan pendapat mereka.

(5) evaluasi proses kelompok; Evaluasi proses kelompok bertujuan untuk mengevaluasi proses kerja ke-lompok dan hasil kerja mereka agar selanjutnya dapat bekerja sama dengan lebih baik.

(Anita Lie, 1999 : 30)


-Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain

-Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan Dalam proses belajar mengajar

-siswa saling ketergantungan positif

-Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain
(Ibrahim, dkk. 2000 : 72).




semoga bermanfaat yah .. :D
kalo nyontek jangan disamakan persis :p

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar