Senin, 13 Februari 2012

Supervisi Klinis Pendidikan ala Ricosaki


 supervisi klinik itu apa sih?? lalu pengertian supervisi klinis itu apa?? nah dengan rangkuman artikel yang saya buat ini kalian akan lebih mengerti dalam dan detail tentang supervisi klinis, ini nih :D

Supervisi Klinis (Clinical Supervision)

Menurut pendapat para ahli, ide supervisi klinis berasal dari praktek kedoktoran – hubungan antara dokter dengan pasien. Pasien diminta menyampaikan keluhannnya dan seterusnya terjadilah teransaksi pengobatan. Menurut Gunawan (1986), setelah keluhan disampaikan, pasien tidak pula menyampaikan jenis penyakit yang dideritainya, dan tidak pula menentukan jenis pengobahan dan obat yang harus diberikan oleh dokter kepadanya, sementara dokter sendiri tidak semerta-merta menybutkan penyakitnya kepada pasien, tapi pengobatan akan diberikan dokter setelah mendapat izin dari pasein dan disertai perjanjian berikutnya.

            Bapedal (2004) membuat intisasi bahwa, supervisi klinis sebagai satu bentuk aplikasi praktis supervisi pengajaran, yang merupakan satu strategi yang sangat berguna dalam supervisi, sebagai pengembangan pengajaran guru. Supervisi klinis diperkenalkan dan dikembangkan oleh Morris L. Cogan, Robert Goidhammer, dan Richart Weller di Universitas Harvard. Pada mulanya supervisi klinis ini memang dirancang sebagai salah satu model atau pendekatan dalam melaksanakan supervise pengajaran terhadap calon guru yang sedang berpraktik mengajar. Selanjutnya, digunakan sebagai satu model supervise pengajaran.

            Richard Willer (dalam Bolla, 1982) memberikan batasan supervisi klinis sebagai layayan yang memfokuskan pada perbaikan pengajaran dengan menjalankan siklus yang sistimatis sari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan pengajar sebenarnya dengan tujuan untuk modifikasi yang rasional.

            Dalam melaksanakan supervisi klinis diperlukan iklim kerja yang baik. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan supervisi klinis adalah kepercayaan guru bahwa tugas supervisor semata-mata untuk membantu guru mengembangkan pengajarannya. Upaya memperoleh kepercayaan dan guru memerlukan satu iklim kerja yang disebut dengan istilah kolegial. Di samping itu, untuk melaksanakan supervisi klinis diperlukan kesediaan supervisor dan guru untuk meluangkan waktu. Setiap pembinaan supervisi klinis akan memerlukan waktu relatif lama.

            Bolla (1982) dalam bukunya menyebutkan bahwa supervisi
klinis adalah:
(1) bantuan yang diberikan kepada guru dalam memperbaiki
dan meningkatkan keterampilan mengajarnya dan dapat
dilaksanakan untuk kepentingan calon guru dalam
pendidikan pra jabatan maupun dalam jabatan;
(2) Supervisi klinis terdiri atas tahapan pendahuluan (pre
conference), observasi mengajar dan pertemuan balikan;
(3) Pendekatan yang dilakukan bersifat profesioanal dan
humanistik;
(4) Selain menguji kemampuan siswa juga menguji kemampuan
pembimbing;
(5) Harus dilakukan oleh lembaga yang kompeten. Bagaimanakan
real kegiatan supervisi klinis dan prangkatnya? Akan
dibicarakan tersendiri.

Karakteristik supervisi klinis diberikan oleh Bafadal (2004)
sebagai berikut.
1) Supervisi klinis berlangsung dalam bentuk hubungan tatap
muka antara supervisor dan guru;
2) Tujuan supervisi klinis adalah untuk pengembangan
profesional guru;
3) Kegiatan supervisi klinis ditekankan pada aspek-aspek yang
menjadi perhatian guru serta observasi kegiatan pengajaran
di kelas;
4) Observasi harus dilakukan secara cermat dan mendetail;
5) Analisis terhadap hasil observasi harus dilakukan bersama
antara supervisor dan guru, serta
6) Hubungan antara supervisor dan guru harus bersifat kolegial
bukan otoritarian.

Proses supervisi klinis, perilaku supervisor terbentang dalam
garis kontinum, yang meliputi:
1. mendengarkan,
2. mengklarifikasi,
3. mendorong,
4. mempresentasikan,
5. memecah masalah,
6. bernegosiasi,
7. mendemontrasikan,
8. memastikan,
9. standardiasi, dan
10. menguatkan.

Supervisi klinis merupakan suatu proses, yang terdiri atas sejumlah tahapan yang berbentuk siklus. Banyak teoretisi memberikan deskripsi yang berbeda mengenai siklus supervise klinis, namun secara umun langkah-langkah ini bisa disederhanakan menjadi tiga tahap. Bapedal(2004) menyebutkan ada bahwa tiga tahap atau aktivitas itu adalah:(1) tahap perencanaan (tahap pertemuan awal); (2) tahap observasi mengajar, dan (3) tahap evaluasi dan analisis (pertemuan balikan).

2.      Konsep Supervisi Klinik

Supervisi klinik, mula-mula diperkenalkan dan dikembangkan oleh Morris L. Cogan, Robert Goldhammer, dan Richarct Weller di Universitas Harvard pada akhir dasa warsa lima puluh tahun dan awal dasawarsa enam puluhan (Krajewski) 1982). Ada dua asumsi yang mendasari praktek supervisi klinik. Pertama, pengajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis secara berhati-hari melalui pengamatan dan analisis ini, supervisor pengajaran akan mudah mengembangkan kemampuan guru mengelola proses pembelajaran. Kedua, guru-guru yang profesionalnya ingin dikembangkan lebih menghendaki cara yang kolegial daripada cara yang outoritarian (Sergiovanni, 1987).

Pada mulanya, supervisi klinik dirancang sebagai salah satu model atau pendekatan dalam melakukan supervisi pengajaran terhadap calon guru yang sedang berpraktek mengajar. Dalam supervisi ini ditekanannya pada klinik, yang diwujudkan adalah bentuk hubungan tatap muka antara supervisor dan calon guru yang sedang berpraktek, Cogan (1973) mendefinisikan supervise klinik sebagai berikut :


The rational and practice designed to improve the teacher’supervisi
classroom performance. It takes its principal data from the events of the
classroom. The analysis of these data and the relationships between
teacher and supervisor from the basis of the program, procedures, and
strategies designed to improve the student’supervisi learning by
improving the teacher’supervisi classroom behavior (Cogan 1973,
halaman 54).

Sesuai dengan pendapat Cogan ini, supervisi klinik pada dasarnya merupakan pembinaan performansi guru mengelola proses belajar mengajar. Pelaksanaannya didesain dengan praktis secara rasional. Baik desainnya maupun pelaksanaannya dilakukan atas dasar analisis data mengenai kegiatan-kegiatan di kelas. Data dan hubungan antara guru dan supervisor merupakan dasar program prosedur, dan strategi pembinaan perilaku mengajar guru dalam mengembangkan belajar murid-murid. Cogan sendiri menekankan aspek supervisi klinik pada lima hal, yaitu (1) proses supervise klinik, (2) interaksi antara calon guru dan murid, (3) performansi calon guru dalam mengajar, (4) hubungan calon guru dengan supervisor, dan (5) analisis data berdasarkan peristiwa aktual di kelas.

            Tujuan supervisi klinik adalah untuk membantu memodifikasi polapola pengajaran yang tidak atau kurang efektif. Menurut Sergiovanni (1987) ada dua sasaran supervisi klinik, yang menurut penulis merefleksi multi tujuan supervisi klinik, yang menurut penulis merefleksi multi tujuan supervisi pengajaran, khususnya pengembangan profesional dan motivasi kerja guru, sebagaimana telah dikemukakan dalam bab I. Di satu sisi, supervisi klinik dilakukan untuk membangun motivasi dan komitmen kerja guru. Di sisi lain, supervisi klinik dilakukan untuk menyediakan pengembangan staf bagi guru. Sedangkan menurut dua orang teoritisi lainnya, yaitu Acheson dan Gall (1987) tujuan supervisi klinik adalah meningkatkan pengajaran guru dikelas. Tujuan ini dirinci lagi ke dalam tujuan yang lebih spesifik, sebagai berikut.

1. Menyediakan umpan balik yang obyektif terhadap guru, mengenai
pengajaran yang dilaksanakannya.
2. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah
pengajaran.
3. Membantu guru mengembangkan keterampilannnya menggunakan
strategi pengajaran.
4. Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan
keputusan lainnya.
5. Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap
pengembangan profesional yang berkesinambungan.

            Demikianlah sekilas konsep spuervisi klinik bila disimpulkan, maka karakteristik supervisi klinik sebagai berikut ; supervisi klinik berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka antara supervisor dan guru, tujuan supervisi klinik itu adalah untuk pengembangan profesional guru. Kegiatan supervisi klinik ditekankan pad aspek-aspek yang menjadi perhatian guru serta observasi kegiatan pengajaran di kelas, observasi harus dilakukan secara cermat dan mendetail, analisis terhadap hasil observasi harus dilakukan bersama antara supervisor dan guru dan hubungan antara supervisor dan guru harus bersifat kolegial bukan autoritarian.

3. Tahap Supervisi Klinis

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa ada tiga tahap dalam proses supervisi klinis, yaitu: (1) tahap perencanaan (tahap pertemuan awal); (2) tahap observasi mengajar, dan (3) tahap evaluasi dan analisis (pertemuan balikan). Berikut uraian masing-masing bagian yang dikutip dari Bolla (1982).

a.      Tahap pertemuan pendahuluan

Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakun rencana tentang keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Tahap ini memberikan kesempatan kepada guru dan supervisor untuk mengidentifikasi perhatian utama guru kemudian menterjemahkannya ke dalam bentuk tingkahaku yang dapat diamati. Dibicarakan juga bentuk dan jenis data mengajar yang akan diobservasi dan dicatat selama pelajaran berlangsung. Suatu Said Suhil Achmad: Profesi Kependidikan. Kegiatan 8 6 komunikasi yang efektif dan terbuka diperlukan dalam tahap ini guna mengikat supervisor dan guru sebagai partner diantara suasana kerja yang harmonis.

Tujuan utama pertemuan awal ini adalah untuk mengembangkan, bersama antara supervisor dan guru, kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru. Tujuan ini bisa dicapai apabila dalam pertemuan awal ini tercipta kerja sama, hubungan kemanusian dan komunikasi yang baik antara supervisor dengan guru. Selanjutnya kualitas hubngan yang baik antara supervisor dan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinik. Oleh sebab itu para teoritisi banyak menyarankan agar pertemuan awal ini, dilaksanakan secara rileks dan terbuka. Perlu sekali diciptakan kepercayaan guru terhadap supervisor, sebab kepercayaan ini akan mempengaruhi efektivitas pelaksanaan pertemuan awal ini. Kepercayaan ini berkenaan dengan kenyakinan guru bahwa supervisor memperhatikan minat atau perhatian guru.

            Pertemuan pendahuluan ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam pertemuan awal ini supervisor bisa menggunakan waktu 20 sampai 30 menit, kecuali jika guru mempunyai permasalahan khusus yang membutuhkan diskusi panjang. Pertemuan ini sebaiknya dilaksanakan di satu ruangan yang netral, misalnya kafetaria, atau bisa juga di kelas. Pertemuan di ruang kepala sekolah atau supervisor kemungkinannya akan membuat guru menjadi tidak bebas. Secara teknis, ada delapan kegiatan yang harus dilaksanakan dalam pertemuan awal ini, yaitu (1) menciptakan suasana yang akrab dan terbuka, (2) mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dikembangkan guru dalam pengajaran. (3) menerjemahkan perhatian guru ke dalam tingkah laku yang bisa diamati, (4) mengidentifikasi prosedur untuk memperbaiki pengajaran guru, (5) membantu guru memperbaiki tujuannya sendiri (6) menetapkan waktu observasi kelas, (7) menyeleksi instrument observasi kelas, dan (8) memperjelas konteks pengajaran dengan melihat data yang akan direkam. Goldhammer, Anderson, dan Krajewski (1981) mendeskripsikan satu agenda yag harus dihasilkan pada akhir pertemuan awal. Agenda tersebut adalah :

a. Menetapkan kontrak atau persetujuan antara supervisor dan guru tentang
apa saja yang akan diobservasi.

1) Tujuan instruksional umum dan khusus pengajaran
2) Hubungan tujuan pengajaran dengan keseluruhan program
pengajaran yang diimplementasikan.
3) Aktivitas yang akan diobservasi
4) Kemungkinan perubahan formal aktivitas, sistem, dan unsur-unsur
lain berdasarkan persetujuan interaktif antara supervisor dan guru.
5) Deskripsi spesifik butir-butir atau masalah-masalah yang balikannya
diinginkan guru.
b. Menetapkan mekanisme atau aturan-aturan observasi meliputi :
1) Waktu (jadwal) observasi
2) Lamanya observasi
3) Tempat observasi
c. Menetapkan rencana spesifik untuk melaksanakan observasi meliputi:
1) Dimana supervisor akan duduk selama observasi
2) Akankah supervisor menjelaskan kepada murid-murid mengenai
tujuan observasinya jika demikian, kapan sebelum ataukah setelah
pelajaran.
3) Akankah supervisor mencari satu tindakan khusus.
4) Akankah supervisor berinteraksi dengan murid-murid
5) Perlukah adanya material atau persiapan khusus
6) Bagaimanakah supervisor akan mengakhiri observasi

b.      Tahap Pengamatan Mengajar

            Pada tahap ini guru melatih tingkahlaku mengajar berdasarkan komponen keterampilan dasar mengajar yang telah disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Dipihak lain supervisor mengamati dan mencatat atau merekam tingkah laku guru ketika mengajar, berdasarkan komponen keterampilan yang diminta oleh guru untuk direkam. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.

            Sehubungan dengan teknik dan instrumen ini, sebenarnya pada peneliti telah banyak yang mengembangkan bermacam-macam teknik yang bisa digunakan dalam mengobservasi pengajaran. Acheson dan Gall (1987) mereview beberapa teknik dan mengajurkan kita untuk menggunakannya dalam proses supervisi klinis beberapa teknik tersebut adalah sebagai berikut:

            a. Selective verbatim. Di sini supervisor membuat semacam rekaman
            tertulis, yang bisa dibuat dengan a verbatim transcript. Sudah barang
            tentu tidak semua kejadian verbal harus direkam dan sesuai dengan
            kesepakatan bersama antara supervisor dan guru pada pertemuan
            awal, hanya kejadian-kejadian tertentu yang harus direkam secara
            selektif. Transkrip ini bisa ditulis langsung berdasarkan pengamatan
            dan bisa juga menyalin dari apa yang direkam terlebih dahulu
            melalui tape recorder.

            b. Rekaman observasional berupa a seating chart. Di sini, supervisor
            mendokumentasikan perilaku-perilaku murid-murid sebagaimana
            mereka berinteraksi dengan seorang guru selama pengajaran
            berlangsung. Seluruh kompleksitas perilaku dan interaksi di
            deskripsikan secara bergambar. Melalui penggunaan a seating chart
            ini, supervisor bisa mendokumentasikan secara grafis interaksi guru
            dengan murid-murid dengan murid. Sehingga dengan mudah
            diketahui apakah guru hanya berinteraksi dengan semua murid atau
            hanya dengan sebagian murid, apakah semua murid atau hanya
            sebagian murid yang terlibat proses belajar mengajar.

            c. Wide-lens techniques. Di sini supervisor membuat catatan yang
            lengkap mengenai kejadian-kejadian di kelas dan cerita yang
            panjang lebar. Teknik ini bisa juga disebut dengan anecdotal record.

            d. Checkliss and timeline coding. Di sini supervisor mengobservasi dan
            mengumpulkan data perilaku belajar mengajar.Perilaku
            pembelajaran ini sebelumnya telah diklasifikasi atau dikategorikan.
            Contoh yang paling baik prosedur ini dalam observasi supervisi
            klinik adalah skala analisis interaksi Flanders (Flanders; 1970).
            Dalam analisis ini, aktivitas kelas diklasifikasikan menjadi tiga
            kategori besar, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan murid dan
            tidak ada pembicaraan (silence), Tabel 4.1 merupakan satu contoh
            analisis interaksi Flanders.

            Checklist yang bisa digunakan untuk mengarahkan observasi pengajaran adalah apa yang disebut dengan istilah timeline coding technique yang telah dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu, yang memang didesain untuk mempelajari strategi pengajaran. Di sini, supervisor mencatat perilaku guru maupun murid dalam waktu-waktu tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya selama waktu-waktu tertentu ditetapkan sebelumnya disediakan selama proses pembelajaran. Teknik ini bisa disediakan data terhadap guru yang mereka rasa harus diobservasi dan dikembangkan. Instrumen ini bisa mengarahkan supervisor dalam observasinya dan menyediakan balikan yang spesifik dalam klasifikasi waktu yang diinginkan. Demikianlah beberapa teknik yang telah direview oleh Acheson dan Gall telah dikemukakan, bisa digunakan untuk mengarahkan dan mempermudah tahap observasi dalam proses supervisi klinik. Supervisor yang efektif seharusnya menyadari adanya beberapa teknik ini dan berusaha memiliki satu
            atau lebih teknik sesuai dengan perhatian guru yang akan diobservasi. Namun sayangnya, menurut Daresh (1989), dengan melihat dari waktu ke waktu, yang terjadi justru sebaliknya. Dan banyak hal, supervisor hanya belajar satu teknik observasi yang disukainya, misalnya teknik analisis Interaksi Flanders, dan menggunakannya setiap teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan tetapi kelebihan-hkelebihan setiap teknik dengan cepat akan hilang apabila supervisor lebih berwawasan terhadap hanya satu teknik yang dipahami dan disukai dengan tidak mengikuti perhatian pengajaran guru.

c.       Tahap pertemuan balikan

Sebelum pertemuan balikan dilaksanakan diharapkan supervisor mengadakan analisis pendahuluan tentang rekaman observasi ynng dibuat sebagai bahan dalam pembicaraan tahap ini. Dalam hal ini supervisor harus mengusahakan suatu data yang obyektif, menganalisis dan menginterpretasikan secara kooperatif bersama dengan guru tentang apa yang telah berlangsung dalam mengajar

Tahap ketiga dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan balikan. Pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran, dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil observasi. Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah ditindaklanjuti apa sajayang dilihat oleh supervisor, sebagai onserver, terhadap proses belajar mengajr. Pembicaraan dalam pertemuan balikan ini adalah ditekankan pada identifikasi dan analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan murid yang direncanakan dan perilaku aktual guru dan murid, serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana yang seharusnya akan dilakukan sehubungan dengan perbedaan yang ada. Pertemuan balikan ini merupakan tahap yang penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan tertentu. Balikan ini harus deskriptif, spesifik, konkrit, bersifat memotivasi, aktual, dan akurat sehingga betul-betul bermanfaat bagi guru (Sergiovanni, 1987). Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru,s ebagaimana dikemukakan oleh Goldhammer, Anderson, dan Krajewski (1981), yaitu , (1) guru bisa diberik penguatan dan kepuasan, sehingga bisa termotivasi dalam kerjanya, (2) isu-isu dalam pengajaran bisa didefinisikan bersama supervisor dan guru dengan tepat, (3) supervisor bila mungkin dan perlu, bisa berupaya mengintervensi secara langsung guru untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan, (4) guru bisa dilatih dengan teknik ini untuk melakukan supervise terhadap dirinya sendiri, dan (5) guru busa diberi pengetahuan tambahan untuk meningkatkan tingkat analisis profesional diri pada masa yang akan datang. Tentunya sebelum mengadakan pertemuan balikan ini supervisor terlebih dahulu menganalisa hasil observasi dan merencanakan bahan yang akan dibicarakan dengan guru. Begitu pula diharapkan guru menilai dirinya sendiri. Setelah itu dilakukan pertemuan balikan ini. Dalam pertemuan balikan ini sangat diperlukan adanya keterbukaan antara supervisor dan guru. Sebaiknya, pertama-tama supervisor menanamkan kepercayaan pada diri guru bahwa pertemuan balikan ini bukan untuk menyalahkan guru melainkan untuk memberikan masukan balikan. Oleh sebab banyak para teoritisi yang menganjurkan agar pertama-tama yang harus dilakukan oleh supervisor dalam setiap pertemuan balikan adalah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap guru. Baru setelah melanjutkan dengan analisis bersama setiap aspek pengajaran yang menjadi perhatian supervisi klinis. Berikut ini beberapa langkah penting yang harus dilakukan selama pertemuan balikan.

            a. Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap pengajaran yang dilakukan, kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan (reinforcement).

            b. Menganalisa pencapaian tujuan pengajaran. Di sini supervisor bersama guru mengidentifikasi perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dan tujuan pengajaran yang dicapai.

            c. Menganalisa target keterampilan dan perhatian utama guru. Di sini (supervisor bersama guru mengidentifikasi target ketrampilan dan perhatian utama yang telah dicapai dan yang belum dicapai. Bisa jadi pada saat ini supervisor menunjukkan hasil rekaman observasi, sehingga guru mengetahui apa yang telah dilakukan dan dicapai, dan yang belum sesuai dengan target ketrampilan dan perhatian utama guru sebagaimana disepakati pada tahap pertemuan awal.  Apabila dalam kegiatan observasi supervisor merekam proses belajar mengajar dengan alat elektronik, misalnya dengan menggunakan alat syuting, maka sebaiknya hasil rekaman ini dipertontonkan kepada guru sehingga ia dengan bebas melihat dan menafsirkannya sendiri.

            d. Supervisor menanyakan perasaannya setelah enganalisis target keterampilan dan perhatian utamanya.
            e. Menyimpulkan hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisi klinik. Disini supervisi memberikan kesempatan kepada guru untuk menyimpulkan target keterampilan dan perhatian utamanya yang telah dicapai selama proses supervisi klinis.
           
            f. Mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan berikut sekaligus menetapkan rencana berikutnya.

Langkah langkah utama dalam tahap ini adalah:

1. Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesan
umum guru ketika ia mengajar serta memberi
penguatan;
2. Mereviu tujuan pelajaran;
3. Mereviu target keterampilan serta perhatian utama guru;
4. Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pelajaran
berdasarkan target dan perhatian utamanya;
5. Menunjukkan serta mengkaji bersama guru hasil observsi
(rekaman data) yang telah dibuat;
6. Menanyakan peraaaan guru setelah melihat rekaman
data tersebut;
7. Menyimpulkan hasil dengan melihat apa yang
sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dan
apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai; dan
8. Menuntukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau di memperhatikan pada kesempatan berikutnya.

           

Demikian tiga pokok dalam proses supervisi klinik. Ketiga tahap ini sebenarnya berbentuk siklus, yaitu tahap pertemuan awal, tahap observasi mengajar, dan tahap pertemuan balikan.

























DAFTAR PUSTAKA

Alexander Mackie College of Advance Education (1981).
Supervision Of Practice Teaching, Primary, Sydney, Australia

Ahmad, Said Suhil. (2003). Model Pelatihan Profesional
Guru, Makalah disampaikan pada Rapat Lintas Sektoral
Bidang Pendidikan, 4 Januari 2003 di Pekanbaru

Bapadal, Ibrahim. (2003). Peningkatan Prifesionalisme Guru
Sekolah Dasar. JakartaL Bumi Aksara.

Bolla. J.I. (1982). Supervisi Klinis. Jakarta: Depdiknas.
Darmansyah. (2007). Menciptakan Pembelajaran yang
Mengenangkan Melalui Optimalisasi Jeda Stategis
dengan Karikatur Hunor dalam Pembelajaran
Matematika. Jurnal Teknodik Pustekkom.go.id

DePorter, Bobbi, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. 2001.
Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning
di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Penerbit KAIFA.

Dryden, Gordon dan Jeanette Vos. 1999. The Learning
Revolution: To Change the Way the World Learns.
Selandia Baru: The Learning Web.

Gunawan, Ary. (1996). Administrasi Sekolah|: Administgrasi
Pendidikan Makro. Jakarta: Reneka Cipta

Hamalik, Oemar. (1975). Praktek Keguruan. Bandung Tarsito.
Imran, Ali. (1995). Pembinaan Guru Indonesia. Jakarta: PT.
Dunia Pustaka Jaya.

Paterson Kathy. (2007). 55 Teaching Problemas. (Terjemahan
Frans Kiworo). Jakarta, Grasindo.

Reimer, Everett. (1987). Sekitar ektensi Sekolah. Terjemahan
Said Suhil Achmad: Profesi Kependidikan. Kegiatan 8 23
Sarino Mangunpranoto. Yokyakarta: PT. Manindita

Rifai, Mohd. (1982). Administrasi dan Supervisi Pendidikan.
Bandung: Jemmars.

Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyakarat Belajar.
Jakarta: Paramadia.

Sadiman. (2006). Interaksi dan Motivasi Belajat Mengajar.
Jakarta: TP. Rajawali Grafiondo Persada

Supriadi, Dedi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat
Guru. Edisi kedua. Yokyakarta: Mitra Gama Widyaa.

Undang-Undang RI Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan
Nasional.

Glickman, C.D 1995. Supervision of Instruction. Boston: Allyn And Bacon Inc.
Gwynn, J.M. 1961. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company.

McPherson, R.B., Crowson, R.L., & Pitner, N.J. 1986. Managing Uncertainty: Administrative Theory and Practice in Education. Columbus, Ohio: Charles E. Merrill Pub. Co.

Oliva, Peter F. 1984. Supervision For Today’s School. New York: Longman. Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Purwanto, Ngalim.2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
Rosdakarya

Sergiovanni, T.J. 1982. Editor. Supervision of Teaching. Alexandria:
Association for Supervision and Curriculum Development.

Sergiovanni, T.J. dan R.J. Starrat. 1979. Supervision: Human Perspective.
New York: McGraw-Hill Book Company.
Wiles. Kimball.(1956). Supervision for Better School. New
Jersey. Printice Hall inc, Engdewood Ciffs.

Udin S. Winataputra. (2003). Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar