Sabtu, 17 November 2012

kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar



3.1. kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuan, para remaja Indonesia banyak yang menggunakan bahasa gaul dan tidak menempatkannya pada tempatnya. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan  sebagai preman.Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak pada tempatnya ini dapat disebut dengan bahasa yang tidak baik.



Kepala Balai Bahasa Kalimantan Tengah (Kalteng) Drs Sumadi MHum mengatakan, penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan remaja sudah dalam tahapan mencemaskan karena tidak digunakan secara baik dan benar.

                "Berdasarkan kenyataan, penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan remaja sudah dalam tahapan mencemaskan. Salah satu penyebabnya adalah mereka sudah tidak lagi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar," katanya di Palangka Raya, Kamis.

                Menurutnya, Bahasa Indonesia yang digunakan kalangan remaja atau generasi muda itu lebih banyak mencampuradukan dengan bahasa asing. Bahkan, pada penggunaannya sudah tidak melihat tempatnya lagi.

"Salah satu cara yang dilakukan untuk selalu memperbaiki penggunaan bahasa pers yakni dengan membentuk forum bahasa media massa yang ada di 30 provinsi," katanya.
 


Di era seperti ini banyak sekali para remaja yang menggunakan bahasa-bahasa yang tidak baik dan tidak benar. Bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan pada tempatnyan namun banyak sekali remaja-remaja yang tidak bisa menggunakan bahasa sopan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua Terlebih kepada guru mereka. Sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan EYD, sangat ironis sekali ketika melihat gaya bicara dan gaya menulis para remaja kita kini. Mereka seakan menulis tanpa aturan yang mana tidak mengetahui cara menulis dengan baik dan benar. Hal serupa pun terjadi di masalah percakapan. Kata-kata seperti “enggak”, “beneran” menjadi bahasa yang sangat benar bagi mereka. 

Remaja adalah calon penerus bangsa, jika remaja terdidik dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar ini diteruskan, maka bisa-bisa bahasa Indonesia sendiri akan kehilangan ciri khasnya. Ambil saja contoh bahasa Alay yang sekarang sedang berkembang di masyarakat khususnya kalangan remaja. Para remaja lebih suka menggunakan kata “ CiYYuzzz” ,” MiApach”, “Amacama.” Entah kenapa kata-kata tersebut sangat suka digunakan oleh mereka. Kelompok mereka membuat tata cara bahasa mereka sendiri yang mana tidak mereka sadari bahwa itu dapat mengurangi kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa yang baku

Sebagian besar mahasiswa yang menjalani skripsi mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Diduga penyebabnya adalah kebiasaan mereka menggunakan bahasa yang tidak benar dalam kehidupan sehari-hari mereka. 

Salah satu fenomena yang aneh juga terjadi ketika beberapa remaja berkumpul dengan teman-teman akrab mereka. Para remaja itu menggunakan bahasa baku yang mana seharusnya menggunakan bahasa pergaulan. Alhasil, para remaja tersebut terkesan terasingkan dari para remaja yang lain, yang mana menggunakan bahasa pada tempatnya atau yang kita sebut dengan bahasa yang baik.

Beberapa penilitian dilakukan untuk menemukan sumber-sumber dari pelunturan bahasa Indonesia dikalangan remaja ini. Selain peranan dari pergaulan bersama teman-teman, ada juga penyebab yang mana membuat para remaja ini meniru kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Penyebab yang paling bertanggung jawab dalam adalah Media Massa.

disadari atau tidak bahasa Indonesia memang sedang dalam nasib yang buruk karena penambahan kosa kata tersebut malah membuat budaya buruk bagi remaja yang terlalu sering menggunakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar