Jumat, 16 November 2012

Makalah Efesiensi Bahasa Indonesia

kurangnya efesiensi dalam  penggunaan bahasa indnonesia yang baik dan benar

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan tugas membuat makalah ini.
            Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Seorang revolusioner akbar, atas jasanya yang agung kepada umat manusia dalam membimbing manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni Dinul Islam.
            Makalah yang berjudul “Kurangnya Efesiensi Dalam Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar” ini kami susun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia. Semoga dengan adanya makalah ini, dapat memberikan informasi tentang pengaruh bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia sehingga kita sebagai remaja bisa memilah penggunaan bahasa yang sesuai dengan kondisi dan situasi yang tepat.
            Dalam penyelesaian makalah ini penulis menerima bantuan dari orang lain baik langsung maupun tidak langsung oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Dosen kami
2.      Seluruh keluarga dan teman-teman yang membantu dengan ketulusan dan lapang dada.

Akhirnya tiada gading yang tak retak. kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami menantikan saran dan kritik yang membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya. Semoga laporan ini berguna bagi penulis sendiri maupun pembaca.





DAFTAR ISI

Halaman Judul                                                                                                                Hal
Kata Pengantar .................................................................................................................i
Daftar Isi............................................................................................................................ii
BAB I                 : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang....................................................................................
1.2  Tujuan Penelitian................................................................................
1.3  Rumusan Masalah...............................................................................
1.3.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar
1.3.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
1.3.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar
BAB II                      : Landasan Teori
2.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar
2.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
2.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar
BABIII                    : Pembahasan Masalah
3.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar
3.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
3.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar
BAB  IV         : PENUTUP
4.1 Kesimpulan..........................................................................................

4.1.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar
4.1.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
4.1.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar
 4.2 Saran....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari pemakaian bahasa. Dengan bahasa seseorang dapat mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan keinginan dalam menyampaikan pendapat dan informasi. Bahasa sebagai alat untuk interaksi antarmanusia dalam masyarakat memiliki sifat sosial yaitu pemakaian bahasa digunakan oleh setiap lapisan masyarakat. Bahasa bukan individual yang hanya dapat dipakai dan dipahami oleh penutur saja akan tetapi, pemakaian bahasa akan lebih tepat bila antara penutur dan mitra tutur saling memahami makna tutur.
Sebagai masyarakat Indonesia tentunya kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Namun, pemakaian bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari mulai bergeser digantikan oleh pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar.
     Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
            Kebaikan dan kebenaran dalam berbahasa Indonesia pun menjadi samar-samar dikalangan masyarakat. Kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Indonesia seenaknya sendiri asalkan orang yang mereka ajak bicara paham dan mengerti apa yang mereka maksud.
            Lunturnya nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang ada pada bahasa Indonesia membuat kami berniat untuk membuat makalah yang mana dapat berguna untuk meningkatkan kesadaran akan benar dan baiknya bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.


1.2 Ruang Lingkup Masalah
            Target yang kita rencanakan adalah bahasa Indonesia itu sendiri jadi batasan dalam pembahasan makalah ini adalah bahasa Indonesia. Kami tidak akan membahas topik lain yang tidak ada hubungannya dengan bahasa Indonesia yang digunakan secara baik dan benar
1.3 Tujuan Penulisan Masalah
1 . memperbaiki kesalahan-kesalahan yang digunaan oleh rakyat Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
2 . Memunculkan kesadaran pada masyarakat akan menurunnya kebanggaan pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar
3 . masyarakat Indonesia menjadi bangga dan menemukan solusi cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

1.4 rumusan masalah
1.4.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar
1.4.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
1.4.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar











BAB II : LANDASAN TEORI

2.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Menurut Howard Gardner Kecerdasan Verbal adalah kecerdasaan berbicara yang memudahkan / melancarkan komunikasi dan mengungkapkan apa yang ada dalm pikran lewat pembicaraan atau karya tulis
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuan, para remaja Indonesia banyak yang menggunakan bahasa gaul dan tidak menempatkannya pada tempatnya. Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan  sebagai preman.Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak pada tempatnya ini dapat disebut dengan bahasa yang tidak baik.
Kepala Balai Bahasa Kalimantan Tengah (Kalteng) Drs Sumadi MHum mengatakan, penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan remaja sudah dalam tahapan mencemaskan karena tidak digunakan secara baik dan benar.

            "Berdasarkan kenyataan, penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan remaja sudah dalam tahapan mencemaskan. Salah satu penyebabnya adalah mereka sudah tidak lagi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar," katanya di Palangka Raya, Kamis.

            Menurutnya, Bahasa Indonesia yang digunakan kalangan remaja atau generasi muda itu lebih banyak mencampuradukan dengan bahasa asing. Bahkan, pada penggunaannya sudah tidak melihat tempatnya lagi.
"Salah satu cara yang dilakukan untuk selalu memperbaiki penggunaan bahasa pers yakni dengan membentuk forum bahasa media massa yang ada di 30 provinsi," katanya.

2.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
Dalam fungsinya sebagai media pendidikan, media massa berkewajiban memasyarakatkan bahasa Indonesia. Media harus menjadi teladan dan pelopor dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, dalam praktiknya, banyak yang mengingkari. Tidak semua media cetak punya acuan dalam pembakuan kosa kata dan istilah. Ketidakseragaman istilah dapat merusak bahasa Indonesia.

Demikian benang merah diskusi kelompok tentang Bahasa Media Massa dalam Kongres IX Bahasa Indonesia, Kamis (30/10) di Jakarta. Topik ini menjadi pembahasan paling diminati peserta, dibanding pembahasan topik lainnya. Tampil sebagai narasumber Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia Hendry CH Bangun, Sastrawan dan Redaktur Harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda, dan pakar IT dari Universitas Gadjah Mada Roy Suryo.

Hendry mengatakan, di dalam organisasi media massa tidak selalu ada fungsi atau peran penyelaras bahasa. Apalagi setelah eforia reformasi, kedudukan penyelaras bahasa tidak lagi menjadi semacam kewajiban. Akibatnya, bahasa media massa dewasa ini dapat dikategorikan sebagai memprihatinkan.

Mencermati data Biro Pusat Statistik (2005), penduduk usia 15-24 tahun sebanyak 40,224 juta, membuat pengelola media massa menjadikan remaja/pemuda sebagai target pembaca dan konsumen iklan. Untuk memikat mereka, bahasa yang digunakan disesuaikan dengan dunia mereka. C enderung menjauh dari bahasa Indonesia baku. Misalnya istilah, ungkapan, kata yang digunakan pasti yang sedang ngetren , katanya. Jadi, ada kesengajaan untuk menggunakan bahasa yang tidak baku agar sesuai dengan target pembaca muda.

2.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar
Salah seorang karyawan media, Lukman Rimadi (25), mengatakan, metamorfosa bahasa kini kerap diciptakan anak-anak remaja yang ingin mendapatkan sesuatu yang beda dalam kelompoknya.
Kompas(30/12) sebagian besar pengguna bahasa Indonesia meremehkan bahasa Indonesia. Buktinya, bahasa yang sudah dideklarasikan sebagai bahasa persatuan 84 tahun lalu itu, hingga kini belum digunakan secara baik dan benar oleh seluruh bangsa Indonesia. Masih saja terjadi kesalahan yang terus diulang-ulang hingga menjadi salah kaprah. Contohnya , acara halalbihalal yang diselenggarakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekitar tempat tinggal saya di Karawang. Ketika itu, pembawa acaranya mengucapkan kalimat, Acara selanjutnya adalah penyampaian nasihat keagamaan oleh Bapak Ustaz Suherman. Waktu dan tempat kami persilakan. Kalimat ini dari sudut penataan penalaran salah. Tapi, anehnya, kalimat ini diucapkan pembawa acara hampir dalam setiap acara protokoler baik di kota maupun di desa..
Menurut E. Zaenal Arifin, bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku.
Mengutip pendapat Prof. Dr. Slamet Mulyana, Ras Siregar dalam bukunya Bahasa Indonesia Jurnalistik menjelaskan, ada empat faktor penyebab bahasa Melayu dijadikan bahasa Indonesia, bukan bahasa Batak, Sunda atau Ambon. Pertama, bahasa Melayu sudah menjadi lingua-franca atau bahasa perhubungan dan perdagangan di Indonesia. Kedua, bahasa Melayu itu sederhana baik dalam fonologi (ilmu tentang bunyi bahasa), morfologi (ilmu tentang bentuk bahasa), maupun sintaksis (ilmu tentang tata kalimat), sehingga mudah dipelajari. Selain itu, bahasa Melayu tidak mengenal halus kasar, seperti bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Ketiga, secara psikologis, suku Sunda dan suku Jawa yang mayoritas sudah ikhlas menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Keempat, bahasa Melayu sanggup dipakai sebagai bahasa kebudayaan secara luas.


BAB III PEMBAHASAN
3.1. kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar
Di era seperti ini banyak sekali para remaja yang menggunakan bahasa-bahasa yang tidak baik dan tidak benar. Bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan pada tempatnyan namun banyak sekali remaja-remaja yang tidak bisa menggunakan bahasa sopan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua Terlebih kepada guru mereka. Sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan EYD, sangat ironis sekali ketika melihat gaya bicara dan gaya menulis para remaja kita kini. Mereka seakan menulis tanpa aturan yang mana tidak mengetahui cara menulis dengan baik dan benar. Hal serupa pun terjadi di masalah percakapan. Kata-kata seperti “enggak”, “beneran” menjadi bahasa yang sangat benar bagi mereka.
Remaja adalah calon penerus bangsa, jika remaja terdidik dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar ini diteruskan, maka bisa-bisa bahasa Indonesia sendiri akan kehilangan ciri khasnya. Ambil saja contoh bahasa Alay yang sekarang sedang berkembang di masyarakat khususnya kalangan remaja. Para remaja lebih suka menggunakan kata “ CiYYuzzz” ,” MiApach”, “Amacama.” Entah kenapa kata-kata tersebut sangat suka digunakan oleh mereka. Kelompok mereka membuat tata cara bahasa mereka sendiri yang mana tidak mereka sadari bahwa itu dapat mengurangi kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa yang baku
Sebagian besar mahasiswa yang menjalani skripsi mengalami kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Diduga penyebabnya adalah kebiasaan mereka menggunakan bahasa yang tidak benar dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Salah satu fenomena yang aneh juga terjadi ketika beberapa remaja berkumpul dengan teman-teman akrab mereka. Para remaja itu menggunakan bahasa baku yang mana seharusnya menggunakan bahasa pergaulan. Alhasil, para remaja tersebut terkesan terasingkan dari para remaja yang lain, yang mana menggunakan bahasa pada tempatnya atau yang kita sebut dengan bahasa yang baik.
Beberapa penilitian dilakukan untuk menemukan sumber-sumber dari pelunturan bahasa Indonesia dikalangan remaja ini. Selain peranan dari pergaulan bersama teman-teman, ada juga penyebab yang mana membuat para remaja ini meniru kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Penyebab yang paling bertanggung jawab dalam adalah Media Massa.
disadari atau tidak bahasa Indonesia memang sedang dalam nasib yang buruk karena penambahan kosa kata tersebut malah membuat budaya buruk bagi remaja yang terlalu sering menggunakannya.
3.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia
Media masa seharusnya menjadi media pendidik, termasuk mendidik penikmat media tersebut dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika pada jaman dahulu TVRI sering sekali melakukan pendidikan-pendidikan pada penontonnya, namun sekarang stasiun TV-TV yang lain tidak melakukan sedemikian rupa.
Kata-kata dan kalimat-kalimat yang tidak benar banyak sekali terucap pada media massa TV. Seperti kalimat dari sebuah iklan kartu yang menggunakan “ciyus dan Miapah”. Dan banyak sekali bahasa-bahasa yang tidak baik dan tidak benar yang digunakan oleh para aktor-aktor yang bermain di sinetron-sinetron.
Semua yang muncul di televisi pasti akan dimakan oleh para penonton. beberapa ada yang memakannya dengan mengolahnya terlebih dahulu sehingga tidak menimbulkan efek negatif. Akantetapi, sebagian besar dari penonton memakan informasi yang ia dapat mentah-mentah tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga membuat efek buruk. Contohnya : ketika kita melihat sinetron tertentu. Kita melihat bagamana seorang protagonist marah terhadap antagonis dan menstimulsi diri kita untuk meniru gaya-gaya bahasa dan logat mereka dalam bahasa
TV memang media yang harus bertanggung jawab dalam penyebaran bahasa Indonesia yang baik dan benar, akan tetapi media massa yang lain juga haruis ikut membantu televisi dalam menyebarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Media-media tersebut adalah media tulis dan media pendengaran atau yang biasa kita sebut dengan radio
Media tulis memiliki penggunaan tatanan bahasa yang baik dan benar, hal ini jelas tidak seragam dengan bahasa televisi yang terkesan bebas. Kebingungan pun akan tercipta dikalangan masyarakat awam yang tidak mengetahui bahasa mana yang baik dan bahasa mana yang benar. Apapun akan mereka pakai asalkan orang yang diajak bicara mengerti. Prinsip inilah yang sering mereka tanam dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga tanpa mereka sadari mereka telah merusak bahasa Indonesia mereka sendiri.
Radio juga salah satu media yang harus bertanggung jawab untuk menyebarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Para penyiar pada jaman sekarang sering sekali menggunakan bahasa-bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah yang ada. Mereka cenderung menggunakan bahasa yang dapat menarik masyarat sehingga mereka hanya menggunakan bahasa yang baik saja, akan tetapi tidak menggunakan bahasa yang benar
Media massa harusnya memiliki keseragaman bahasa sehingga masyarakat awan bisa memahami penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Jika tidak ada teladan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, lalu siapa yang akan mendidik bahasa Indonesia kepada para anak-anak yang tidak mengetahui apapun tentang bahasa 
3.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar
Anak kecil merupakan biji yang akan berkembang dan tumbuh menjadi masa depan bangsa Indonesia. mereka membutuhkan pendidikan yang cukup agar dapat berkembang dan tumbuh dengan baik. Tidak hanya dari segi makanan, namun juga harus diberi cukup ilmu. Ilmu yang mereka dapat harus berisikan teladan yang mana bisa mereka tiru, karena pada dasarnya prinsip belajar anak adalah imitation. Jika hal ini disangkutkan kepada bahasa Indonesia kita. Maka kita akan menemukan sebuah masalah yaitu sulitnya ditemukan orang yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar secara sempurna
Secara keseluruhan para orang dewasa bisa menggunakan bahasa yang baik, akan tetapi tidak semua dari mereka dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Sebab pada saat mereka kecil, bahasa yang mereka tiru dan gunakan merupakan bahasa Indonesia yang kurang benar.
Banyak sekali penggunaan-penggunaan bahasa Indonesia yang tidak benar dikalangan masyarakat. Bahkan sampai dipublikasikan secara umum namun kurangnya orang yang memahami tentang halini membuat bahasa tersebut terkesan benar dan baik-baik saja jika digunakan.
Contohnya , acara halalbihalal yang diselenggarakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekitar tempat tinggal saya di Karawang. Ketika itu, pembawa acaranya mengucapkan kalimat, Acara selanjutnya adalah penyampaian nasihat keagamaan oleh Bapak Ustaz Suherman. Waktu dan tempat kami persilakan. Kalimat ini dari sudut penataan penalaran salah. Tapi, anehnya, kalimat ini diucapkan pembawa acara hampir dalam setiap acara protokoler baik di kota maupun di desa..
Sastrawan dan Redaktur Harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda kesalahan-kesalahan yang terjadi di masyarakat jumlahnya jutaan. Seperti kata salat dipakai 270.000 kali, shalat (1.380.000), sholat (1.139.000). Ustaz (2.470.000), ustad (3.110.000), dan kata ustadz (681.000). Wudu (9.340), wudlu (59.300), wudhu (151.000). Kata gender (924.000) dan jender (76.000). Obyek (1.840.000), objek (1.890.000), obyektif (290.000), objektif (432.000). Iven (290.000), even (6.650.000) dan kata event digunakan 6.650.000 kali.
Hal ini benar-benar membuat para anak kecil dengan mudah terperosot pada penggunaan bahasa Indonesia yang tidak benar meskipun baik.






















BAB IV : Penutup
4.1 Kesimpulan
Bahasa Indonesia sedang dalam masa yang sangat mengkhawatirkan, banyak sekali aspek yang harus diperbaiki dan harus segera dibenahi. Bahasa Indonesia merupakan bahasa miliki Negara Indonesia yang harus diperhatikan dan didukung oleh berbagai pihak demi mewujudkan bahasa Indonesia yang baik dan benar
4.1.1 kurangnya kesadaran remaja dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak.
4.1.2 Ketidakseragaman Istilah Di Media Massa Merusak Bahasa Indonesia harus dibenahi agar tidak menimbulkan masalah yang akan lebih dalam
4.1.3 kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar harus segera diatasi karena mereka merupakan bibit dari bangsa indonesia
4.2 Saran
Bahasa Indonesia harus dikembangkan oleh seluruh masyarakat Indonesia agar dapat tercipta bahasa Indonesia yang baik dan benar.














Daftar Pustaka
Supardi. 2009. IDE-IDE KREATIF Mendidik Anak bagi Orang tua Sibuk. Jogjakarta: Kata Hati.
http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/10/polemik-bahasa-alay-cius-miapah-di.html
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/23/bahasa-indonesiaku-yang-diremehkan-495329.html
http://freezcha.wordpress.com/2009/12/24/pengaruh-bahasa-inggris-terhadap-kosa-kata-bahasa-indonesia/
Dokter Sayoga,M.Sc, “Pengaruh Bahasa  Inggris pada  Pembentukan Kosa-Kata  Baru Berbahasa Indonesia,2001, CV.Angkasa:Bandung.
pengaruh-bahasa-inggris-di-dalam-budaya        (http://wiwan-manusiabiasa.blogspot.com/2009/10/pengaruh-bahasa-inggris-di-dalam-budaya.html)
Hubungan bahasa2 di malang pengaruh bhs ingris terhadap bahasa Indonesia pemuda(http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/nickheaney.pdf)
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/23/bahasa-indonesiaku-yang-diremehkan-495329.html
http://www.phinisinews.com/read/2011/10/6/6176-bahasa_indonesia_di_kalangan_remaja_mulai_mencemaskan

http://dunia-mahadhaya.blogspot.com/2012/02/pudarnya-bahasa-indonesia-di-kalangan.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar