Senin, 19 November 2012

kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar

kurangnya teladan bagi anak kecil tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar

Anak kecil merupakan biji yang akan berkembang dan tumbuh menjadi masa depan bangsa Indonesia. mereka membutuhkan pendidikan yang cukup agar dapat berkembang dan tumbuh dengan baik. Tidak hanya dari segi makanan, namun juga harus diberi cukup ilmu. Ilmu yang mereka dapat harus berisikan teladan yang mana bisa mereka tiru, karena pada dasarnya prinsip belajar anak adalah imitation. Jika hal ini disangkutkan kepada bahasa Indonesia kita. Maka kita akan menemukan sebuah masalah yaitu sulitnya ditemukan orang yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar secara sempurna

Secara keseluruhan para orang dewasa bisa menggunakan bahasa yang baik, akan tetapi tidak semua dari mereka dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Sebab pada saat mereka kecil, bahasa yang mereka tiru dan gunakan merupakan bahasa Indonesia yang kurang benar. 

Banyak sekali penggunaan-penggunaan bahasa Indonesia yang tidak benar dikalangan masyarakat. Bahkan sampai dipublikasikan secara umum namun kurangnya orang yang memahami tentang halini membuat bahasa tersebut terkesan benar dan baik-baik saja jika digunakan. Contohnya , acara halalbihalal yang diselenggarakan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekitar tempat tinggal saya di Karawang. Ketika itu, pembawa acaranya mengucapkan kalimat, Acara selanjutnya adalah penyampaian nasihat keagamaan oleh Bapak Ustaz Suherman. Waktu dan tempat kami persilakan. Kalimat ini dari sudut penataan penalaran salah. Tapi, anehnya, kalimat ini diucapkan pembawa acara hampir dalam setiap acara protokoler baik di kota maupun di desa..
Sastrawan dan Redaktur Harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda kesalahan-kesalahan yang terjadi di masyarakat jumlahnya jutaan. Seperti kata salat dipakai 270.000 kali, shalat (1.380.000), sholat (1.139.000). Ustaz (2.470.000), ustad (3.110.000), dan kata ustadz (681.000). Wudu (9.340), wudlu (59.300), wudhu (151.000). Kata gender (924.000) dan jender (76.000). Obyek (1.840.000), objek (1.890.000), obyektif (290.000), objektif (432.000). Iven (290.000), even (6.650.000) dan kata event digunakan 6.650.000 kali.
Hal ini benar-benar membuat para anak kecil dengan mudah terperosot pada penggunaan bahasa Indonesia yang tidak benar meskipun baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar